08/09/2017

Review Blackview A7, Smartphone Dual Kamera dengan Harga yang Sulit Dipercaya

Seberapa bagus ponsel dengan harga USD 50 atau senilai Rp665 ribu? Blackview A7 meluncur jauh di atas ponsel sekelasnya yang memiliki dual kamera, layar HD dan performa yang super cepat.

Bagaimana jika saya memberi tahu bahwa terdapat smartphone dengan harga di bawah USD 50 atau senilai Rp665 ribu yang dibekali dengan teknologi canggih yang akan membuat Anda tidak mampu berpaling? Itulah yang kami tawarkan melalui Blackview A7, smartphone entry-level dengan dual kamera keluaran produsen smartphone asal Hong Kong bernama Blackview.

Blackview mengirim sampel ponsel A7 untuk di-review, dan saya tidak sabar unuk menggenggamnya dan mencobanya sendiri. Akankah ponsel dual kamera ini dipasarkan dengan harga murah di pasaran? Simak review saya tentang Blackview A7 di bawah ini.

Tentang Blackview

Blackview merupakan merek independen terbesar kedua dari Blackview International Group. Didirikan pada Maret 2013 oleh serial entrepreneur bernama David Xu, dan perusahaan berpandangan bahwa kualitas tidak harus menghabiskan banyak biaya. Smartphone terbarunya, Blackview A7, secara agresif menantang semua yang kita harapkan pada ponsel murah. Anda bisa membeli Blackview A7 hari ini dengan harga USD 49.49 atau setara dengan Rp658 ribu saja. Sebagai pembanding, Nokia 3310 (2017), ponsel feature tanpa fitur-fitur canggih dibanderol dengan harga USD 52 atau Rp691 ribu.

Blackview A7 mampu mengalahkan ponsel feature dengan harga setara, namun berhasil menawarkan lebih banyak fitur, yang biasa ditemukan pada ponsel dengan kisaran harga lebih mahal di kelasnya dengan harga yang tak dapat dipercaya. Inikah smartphone terbaik pada segmen ini? Baca terus untuk mengetahuinya.

Unboxing

Boks sampai melalui paket pos, dengan desain putih simpel dan gambar ponsel pada bagian depan, beserta tulisan merek Blackview di kedua sisi bawahnya. Boks ponsel ini cukup standar, desainnya bersih dan memberikan kesan yang sangat profesional.

Di dalamnya, ponsel disematkan di kardus bagian atas, terbungkus plastik untuk memastikan keamanan dalam pengiriman melalui layanan pos. Setelah membukanya, saya sangat terkejut melihat bahwa paket Blackview termasuk casing jelly transparan untuk melindung ponsel, bersama dengan pelindung layar dari fiber glass. Pembeli Blackview A7 di Ali Express bisa mendapatkan semua aksesori ini secara gratis yang hadir dalam paket pembelian ponsel.

Boks Blackview juga dilengkapi dengan panduan penggunaan ponsel A7, kabel pengisian data micro USB dan charger dinding otomatis berkapasitas 1,000 mAh. Isi boks memiliki semua yang Anda butuhkan, dan casing-nya juga sangat sesuai. Dilengkapi dengan pelindung layar, saya dipercayakan dengan ponsel ini dan menggunakannya selama satu minggu untuk melihat apa saja kemampuannya sebagai ponsel utama.

Satu hal yang perlu Anda perhatikan adalah segel pada baterai, Anda harus melepaskan isolasi yang menutupi bagian contact atau penghubung yang melindungi baterai dari kondisi tidak mengisi daya saat pengiriman dan di atas rak etalase. Setelah Anda melepaskannya, A7 siap digunakan!

Blackview A7 siap digunakan.

Desain

Satu hal lagi yang perlu Anda perhatikan tentang Blackview A7 adalah ponselnya tidak terkesan murahan. Ponsel ini memiliki bentuk persegi panjang standar yang biasa ditemukan dari semua smartphone sejak kemunculan iPhone, dengan bezel berwarna hitam dan tiga tombol Android pada bagian bawah, beserta kamera, earpiece, dan sensor di bagian atas. Berbalut frame metal mengelilingi bodi, terlihat sesuai dengan bahan plastik di bagian belakang yang memiliki desain matte bertekstur criss-cross yang terlihat cerdas dan berkelas. Ponsel ini juga didesain bebas dari bekas sidik jari, jadi Anda tidak perlu mengeluarkan kain lap setiap tiga puluh menit sekali untuk membersihkannya.

Di bagian belakang, Anda akan menemukan dual kamera pada bagian sudut kiri atas di samping LED flash, logo Blackview di bagian tengah di bawahnya, dan grill speaker pada bagian kanan bawah. Tombol power dan pembesar volume berada di bagian sisi kanan dan jack headphone di bagian atas, dengan port micro USB dan mikrofon di bagian bawah.

Jika Anda melihatnya dengan cermat, Anda akan menemukan cerukan mungil di bagian kanan bawan ponsel yang terlihat memiliki ukuran yang pas untuk menempelkan kuku Anda di dalamnya. Adanya desain tersebut memungkinkan Anda untuk membuka penutup belakang ponsel, memperlihatkan baterai dan slot micro USB dan SIM. Kita terbiasa dengan smartphone unibody dengan baterai yang tidak dapat dikeluarkan dan tanpa akses untuk membukanya, jadi hal ini cukup menyegarkan untuk melihat ponsel yang casing-nya bisa Anda buka saat ingin mengganti baterai. Terdapat dua slot SIM, pertama untuk ukuran reguler dan satu lagi untuk micro SIM untuk disematkan dengan benar, Anda juga bisa menggunakan nano SIM.

Ponsel yang saya terima berwarna hitam, namun ponsel ini juga tersedia dalam 3 warna lainnya, yakni biru, emas, dan putih. Secara keseluruhan, ponsel ini terlihat cerdas dan berkelas, dengan warna hitam yang terlihat menawan, namun warna-warna lainnya juga benar-benar memberikan kesan yang berbeda. Khususnya warna biru, terlihat brilian dan memberi kesan ponsel yang menyenangkan, sedangkan warna emas dan putih terkesan canggih.

Ponsel tersebut juga menyandang beberapa hal penting ini: beratnya 175 gram, yang terasa lebih berat dibandingkan kebanyakan ponsel lain yang pernah saya gunakan beberapa tahun lalu. Ponsel ini terasa berat di tangan, dan ini bisa menjadi hal yang baik atau buruk. Jika Anda bepergian dengan ponsel ringan yang tidak terlihat di kantong dan ringan di tangan, maka A7 tidak bisa memenuhinya, namun sebaliknya, ponsel ini terasa kokoh di genggaman dan memberikan kesan bukan perangkat murahan.

Spesifikasi

Beranjak ke dalam ponsel, spesifikasi Blackview A7 cukup simpel namun meyakinkan. A7 mengusung layar 5 inci dengan resolusi HD 720p dengan aspek rasio 16:9. Bagian tepi layar terlihat sedikut melengkung dengan kaca 2.5D, memberikan tampilan yang mulus dan mengesankan. Ini bukan layar yang akan Anda dapatkan dengan harga murah.

Ponsel ini memiliki jeroan prosesor quad-core MediaTek MT6580A dengan kecepatan 1.3GHz, dengan RAM 1GB dan penyimpanan internal 8GB. Di bagian belakang terdapat dual kamera utama dengan lensa Samsung S5K42E2 berkekuatan 5MP dan lensa Samsung GC0310 berkekuatan 2MP dengan aperture f/2.4. Kameranya memang lensa smartphone lama, namun tentu akan menarik untuk melihat keduanya ditandemkan saat kami mengetes kemampuan fotografi ponsel ini.

Baterai Li-polymer 2.800 mAh yang bisa dilepas mampu memberikan pasokan daya, dan Anda akan menemukan kekuatan baterai ini mampu menjalankan ponsel ini dengan baik lantaran chipset ponsel tidak menyedot daya seperti prosesor papan atas. Ponsel ini menjalankan sistem operasi Android 7.0 Nougat dan memiliki akses penuh untuk memasuki ekosistem aplikasi Android.

Dengan menghidupkan perangkat, ponsel ini mendukung pembaruan secara langsung dari baterai, jadi sangat bagus untuk mengetahui bahwa Blackview memiliki layanan purna jual yang akan membuat ponsel ini tetap diperbarui.

Performa

Meski prosesornya biasa-biasa saja, namun dalam prakteknya prosesor tersebut cukup baik dalam menjalankan tugas smartphone sehari-hari. Menggeser layar home ke kiri dan kanan dengan lancar, seperti halnya membuka aplikasi, menjalankan aplikasi dan mengganti aplikasi dengan tombol Home dan menu Android. Jika Anda lebih suka membuka beberapa tab di dalam browser dan mungkin akan menemukan masalah dengan RAM 1GB, saya tidak mengalami ponsel yang melambat saat satu minggu menggunakannya.

Saya biasa membuka lima aplikasi sekaligus di waktu yang sama, yakni Chrome, Facebook, aplikasi Camera, Gmail dan Spotify. Berpindah antar aplikasi berjalan cepat dan mudah, dan saya tidak menemukan pengalaman performa yang lambat atau melambat saat menggunakannya. Teknologi smartphone semakin melesat, dan ada baiknya kita menemukan smartphone low-end dengan harga terjangkau pun mampu mengikutinya.

Hal ini juga berkaitan dengan cara membersihkan ROM ponsel. Tidak ada bloatware di A7, perangkat ini hanyalah ponsel Android standar dengan folder Google di bagian kiri bawah dan Play Store di kanan bawah dari layar Home. Satu-satunya aplikasi yang membuat saya terkejut adalah aplikasi yang tersembunyi di aplikasi drawer, yakni aplikasi Torch yang memungkinkan Anda menggunakan A7 sebagai senter. Selain itu, A7 sangat bersih dan secepat peluit dan hal tersebut terlihat dari performanya.

Saya menginstal AnTuTu untuk menempatkan perangkat di dalamnya, agar lebih objektif membaca performanya. Hasilnya tidak buruk, tentu saja bukan harganya. A7 mampu menembus skor total 23.168. Ponsel ini tidak cukup bagus saat menjalani tes game 3D, namun cukup baik saat menjalani tugas-tugas smartphone standar. Hampir semua perangkat high-end mampu menembus kisaran skor 100.000 dan di atasnya, namun di segmen entry-level, ponsel ini bekerja cukup baik. Untuk tataran benchmark, ponsel ini bisa dibandingkan dengan OPPO R5, ponsel yang dirilis pada Desember 2014 sebagai ponsel LTE tertipis di dunia.

Dalam perbandingan benchmark, OPPO R5 mampu menembus total skor 29.275, dan meskipun CPU Snapdragon 615 lebih baik dibandingkan chipset MT6580A milik A7, namun A7 memiliki skor User Experience yang lebih baik. Tidak buruk untuk ponsel seharga USD 50 atau Rp665 ribu. Sebagai catatan, OPPO R5 dijual sekitar USD 460 atau Rp6,1 juta saat pertama kali dirilis di pasaran di awal 2015 dan hingga saat ini masih dijual lebih dari USD 200 atau Rp2,6 jutaan. Blackview mampu melakukan tugasnya untuk memastikan A7 mampu menghadirkan pengalaman pengguna yang bersih dan cepat performanya.

Performa Kamera

Apa yang paling menarik perhatian hampir semua penggunanya, yakni performa kamera A7. Setup kamera dengan dual lensa masih jarang ditemui saat ini, dan dengan alasan bagus: smartphone tipis, perangkat berukuran mungil dan tidak cukup lapang untuk meletakkan lensa yang bagus di dalam perangkat. Samsung dikenal karena menempatkan tonjolan besar di bagian belakang ponsel hanya untuk memenuhi lensa kamera yang lebih mumpuni dari lensa kamera biasa, namun orang-orang mulai lelah dengan tonjolan besar di bagian belakang ponsel mereka.

Paradigma baru ini menggunakan dual kamera dengan lensa yang lebih kecil dan menggunakan algoritma software untuk menginterpolasi gambar, menghasilkan gambar yang jauh lebih baik dibandingkan gambar yang dihasilkan dengan single kamera. Hal ini terdengar seperti mencari perhatian, namun banyak tes dari dunia nyata dari berbagai ponsel seperti LG G6, Essential PH1, dan Huawei P9 membuktikan dual kamera mampu melakukannya. Lensa kamera kedua mampu menciptakan efek bokeh, hal keren yang biasa dilakukan fotografer profesional melalui kamera DSLR mereka yang mampu fokus pada satu subjek dan mengaburkan latar-belakang di sekitar subjek.

Dalam prakteknya, efek ini bisa didapatkan meski dengan smartphone dengan single kamera jika Anda mengetahui cara melakukannya dan dengan kondisi pemotretan yang tepat, namun dual kamera mampu membuatnya jauh lebih mudah, dan Anda bisa melakukannya bahkan jika lensa kamera tersebut bukan termasuk di jajaran lensa smartphone papan atas seperti flagship.

Dual kamera pada ponsel A7 mampu bekerja dengan baik. Kendati kamera tersebut tidak dibekali dengan lensa yang cukup tajam, namun interpolasi bekerja dengan cukup baik dan berhasil mengambil gambar secara impresif baik di siang hari yang cerah dan di kondisi pencahayaan rendah, dengan beberapa catatan.

Ini adalah pemotretan di siang hari menjelang senja. Anda akan melihat bahwa pemotretan bisa menjadi terlalu ekspose, seperti yang terlihat dari langit di sekitar atap bangunan. Anda bisa menambah eksposure dengan slider yang mudah, meskipun Anda tidak melihat efek lautan putih, namun secara keseluruhan hasil bidikan cukup bagus.

Di sisi lain, saat pemotretan dilakukan di kondisi pencahayaan rendah, dual kamera kurang mengesankan. Ini adalah lokasi yang sama di malam hari, dengan cahaya sangat rendah, dan kedua lensa kurang memadai untuk menghadirkan cukup cahaya untuk menerangi lokasi. Bagian yang mendapatkan cahaya lampu neon tidak terlihat buruk, namun Anda tidak dapat melihat atap atau rumput di foto tersebut. Anda melakukan pemotretan dengan lampu yang redup atau pencahayaan rendah di dalam ruangan di mana sumber cahaya berada di dekatnya, namun pemotretan di luar ruangan di tengah malam? Hasilnya tidak cukup baik.

Gambar lainnya, pemotretan dilakukan di dalam ruangan dengan pencahayaan minim yang justru mengesankan, dan menghasilkan bidikan gambar yang tidak akan Anda dapatkan dari ponsel di segmen ini. Inilah gambar yang diambil di ruangan dengan lampu remang-remang dengan pencahayaan buruk, namun dengan komposisi gambar yang tepat Anda akan mendapatkan hasil yang baik, bahkan tanpa flash.

Pemotretan di dalam ruangan dnegan pencahayaan bagus juga hasilnya cukup baik, meskipun kamera masih belum terlihat bagus saat kontras dengan latar belakang yang terang benderang. Ini sebenarnya terasa seperti kondisi terbaik untuk memotret dengan ponsel ini di dalam ruangan remang-remang.

Salah satu mode pemotretan adalah Blur Mode dan memungkinkan Anda untuk membidik gambar sebuah objek dan menyesuaikan intensitas pengaburan untuk mengontrol efek blur. Dari apa yang saya ceritakan, tidak benar efek bokeh dengan menggunakan dual lensa dan terasa lebih seperti filter software untuk menambahkan efek blur hingga ketajaman pada gambar, namun Anda dapat mendapatkan beberapa efek yang baik dengan hal ini.

Ponsel A7 juga memungkinkan untuk mengambil gambar jarak dekat dari sebuah subjek dengan hasil sangat baik, bahkan di dalam ruangan. Inilah gambar normal di dalam ruangan, tanpa efek blur.

Bidikan gambar yang sama dengan efek blur menghasilkan beberapa hasil yang menarik dan memberikan efek boleh yang sangat bagus.

Hati-hati saat berlebihan, karena bisa saja Anda menghancurkan gambar jika Anda menambahkan efek blur terlalu banyak. Tapi dengan komposisi gambar yang tepat, Anda bisa fokus secara sempurna pada subjek dan mendapatkan gambar yang sangat baik.

Pengambilan gambar di dalam ruangan dengan pencahayaan rendah juga bisa menghasilkan beberapa detail yang bagus, dan Anda tidak kehilangan banyak detail pada atau banyak noise atau gangguan pada gambar close up, bahkan jika pencahayaan tidak ideal.

Saat menghidupkan flash, Anda dapat mengambil gambar dengan detail lebih baik namun komposisi bidikan Anda terganggu dengan lampu LED. Hampir setiap saat, saya merekomendasikan tidak menggunakannya karena lampu flash tidak cukup kuat untuk menerangi bidikan Anda, namun lampu flash ini setera dengan kebanyakan smartphone.

Namun, jika Anda menggunakan beberapa pencahayaan pintar dan beberapa peralatan darurat, Anda dapat menghasilkan beberapa hasil bidikan yang sangat bagus meski tanpa lampu flash. Saya mengambil beberapa gambar ini menggunakan dengan menggunakan selembar kertas dan lampu LED kecil, dan Anda dapat melihat cahaya yang cukup bagus dan detail. Saya juga mengambil gambar menggunakan mode pemotretan PRO untuk mengatur exposure (gambar kedua) secara manual, menambahkan efek blur (gambar ketiga) dan memotret secara monochrome atau hitam-putih.

Tidak perlu diragukan lagi, saya sangat terkesan dengan apa yang bisa dilakukan oleh dual lensa, untuk ponsel dengan harga terjangkau ini.

Kamera selfie di bagian depan, di sisi lain, sedikit mengecewakan saat dibandingkan dengan kemampuan kamera belakang. Dengan setup lensa single yang sederhana mampu melakukan berbagai tugas dengan kondisi pencahayaan reguler namun hasilnya masih rata-rata. Bahkan dengan kondisi siang hari, terdapat beberapa gangguan yang terlihat dalam gambar, dan detail tak seperti yang diharapkan. Dalam kondisi pencahayaan rendah, saya tidak berharap dengan hasil yang mengesankan.

Ponsel ini dibekali dengan fitur Beauty Mode yang beberapa tahun terakhir ini tidak lepas dari wajah saya, dan fitur ini mampu memperbaiki wajah namun tidak berlebihan seperti yang Anda lihat dari filter beauty di smartphone lainnya dari Samsung atau OPPO.

Kesimpulan

Setelah menggunakan ponsel ini selama satu minggu, saya tidak mengalami masalah dan daya tahan baterai adalah yang terbaik, digunakan selama dua hari secara normal untuk mengambil gambar, memeriksa email dan media sosial, menjelajah internet dan bahkan menjalankan aplikasi Monster Manual untuk game Dungeon and Dragons. Ponsel ini bekerja secara mengagumkan tanpa melambat atau membuat saya tidak sabaran. Saya akan merekomendasikan ponsel ini untuk siapa saja yang memiliki anggaran terbatas, dan bahkan jika Anda memiliki ponsel high-end ponsel ini bisa menjadi cadangan yang bagus. Saya ingin mengatakan bahwa inilah smartphone terbaik yang bisa Anda dapatkan dalam segmen harga di bawah USD 100 atau Rp1,3 jutaan pada saat ini.

Saat di titik ini, kebanyakan konsumen menyadari harga dan ingin mendapatkan nilai terbaik untuk uang mereka. Sangat sulit untuk menemukan smartphone di pasaran yang bernilai seperti Blackview A7. Kebanyakan smartphone dalam segmen harga ini masih memiliki layar 480p, namun A7 telah memiliki layar dengan resolusi HD 720p. Selain itu, Anda akan mendapatkan setup dual kamera yang cukup memadai yang mampu menghasilkan gambar yang sangat bagus asalkan tidak dilakukan di malam hari.

Walaupun Blackview A7 masih belum dijual secara umum di Indonesia, Priceprice.com menyediakan informasi toko yang menjual Blackview A7 dan mampu untuk mengirimnya ke Indonesia. Beli Blackview A7 melalui link ini. Ingat, harga ini belum termasuk ongkos kirim dan pajak import barang.

Produk Terkait

Blackview A7

Harga termurah di Indonesia Rp 540.945 -