05/03/2018

Blackview S6 Hands-on Review - Indonesia

Kita akan melihat salah satu pesaing yang sangat kuat sebagai rajanya entry-level, Blackview S6.

Saat bicara tentang nilai smartphone, sangat wajar melihat merek China seperti Xiaomi dan Vivo untuk mendapatkan beberapa penawaran bagus. Berkat kuatnya industri manufaktur di China, merek China mampu menawarkan smartphone dengan hardware terbaik dengan harga yang sangat kompetitif. Bergabung dengan jajaran smartphone ultra-kompetitif ini adalah Blackview yang berbasis di Hong Kong, sebuah perusahaan smartphone yang ingin benar-benar membuat komitmen di segmen ini. Hari ini kami me-review Blackview S6, sebuah smartphone yang harganya di bawah USD 100 atau Rp1,3 jutaan namun dikemas dalam serangkaian fitur dan kemampuan yang mengesankan.

Dengan harga tersebut, Blackview S6 cukup kuat untuk bersaing pada pangsa pasar smartphone saat ini. Ponsel ini tidak kalah bersaing jika dihadapkan dengan Nokia 2, Samsung Galaxy J2 Prime, Motorola Moto E4, Vivo Y53, dan Cherry Mobile Desire R7. Dapatkah Blackview S6 menawarkan nilai terbaik di segmen ini? Mari kita cari tahu bersama.

Tentang Blackview

Blackview adalah merek independen terbesar kedua di Blackview International Group. Berfokus pada smartphone terjangkau yang dibekali hardware canggih melebihi yang Anda harapkan, Blackview membangun namanya di segmen perangkat mobile. Didirikan pada bulan Maret 2013 oleh entrepreneur serial David Xu, Blackview mendukung statemen kualitas tidak perlu menghabiskan banyak biaya.

Blackview didukung "kualitas dan pengalaman", dan slogan mereka adalah "Smartphone untuk semua orang". Perusahaan yang mengacu pada standar desain dan kualitas yang sangat tinggi ini, dengan sangat hati-hati memilih setiap langkah prosedur mulai dari desain hingga produksi untuk menciptakan smartphone berkualitas yang akan memberikan pengalaman terbaik kepada pengguna.

Unboxing

Blackview S6 tiba melalui kiriman pos dengan boks putih bersih. Desainnya mungil dan minimalis polos dengan logo Blackview terdapat di bagian samping dan di bagian atas. Samar-samar terlihat pola mirip dinding bata di bagian depan jika Anda melihatnya cukup dekat, namun desainnya yang bersih tidak memberi petunjuk apa yang ada di dalam boks sampai Anda melihat di bagian bawah, di mana Anda akan melihat tulisan dalam berbagai bahasa di negara-negara Blackview beroperasi, mulai dari Rusia, Ukraina, Italia dan Spanyol, Jerman, Malaysia dan Filipina. Model dan dibuat pada terdapat di bagian bawah, membiarkan Anda mengetahui boks ini berisi Blackview S6, dengan OS bawaan Android 7.0 Nougat dan beberapa spesifikasi lainnya.

Di dalamnya Anda akan menemukan sisipan karton yang menjaga ponsel di tempatnya. Ponsel ini dibekali dengan stiker untuk melindungi layar saat pengiriman, namun boksnya juga dilengkapi dengan pelindung layar tempered glass dan plastik bubble lembut. Dengan membuka sisipan cardboard, Anda akan melihat charger 2,000 mAh dan kabel di bawahnya, bersama dengan in-ear headset dengan mikrofon untuk panggilan telepon. Meski IEM tidak tertulis dan memiliki kabel tipis, kabel USB sebenarnya USB 3.0 dengan stiker berujung biru dan memiliki kabel tebal yang bagus dan terlihat kokoh.

Desain

Beralih ke ponsel itu sendiri, perangkat ini menampilkan desain khas Blackview pada kisaran harga ini, dengan frame logam lembut yang diapit oleh casing belakang plastik dan layar berukuran besar. Ponsel ini memiliki tampilan klasik, namun Blackview memilih untuk memoles casing belakang dengan desain geometris bertekstur untuk membuatnya terlihat berkelas. Tombol power dan pengatur volume berjajar di sisi kanan ponsel, membiarkan sisi kiri tetap mulus dan tak terputus. Terdapat dua garis antena masing-masing di sisi atas dan bawah, mengisi ruang yang tidak mencolok, sementara di bagian bawahnya bersih kecuali dua titik speaker grill dan mikrofon. Port microUSB telah dipindahkan ke bagian atas perangkat, sehingga desain untuk panggilan cukup bagus dan saya merasa jauh lebih nyaman, terutama saat Anda menyangga ponsel di atas dudukan dan menggunakannya saat mengisi daya. Jack headphone berada tepat di samping port USB. Ponsel ini memiliki tebal 9,7 milimeter dan berdimensi 155 mm x 73 mm, dan beratnya mencapai 217 gram yang cukup berat, namun tetap membuatnya terasa nyaman di tangan.

Bagian depan perangkat merupakan selling point atau nilai jual terbesar pertama dari S6: layar IPS 5.7 inci HD+. Anda mungkin tidak akan mengharapnya dengan banderol harga segini, layarnya yang besar, sangat terang dan memiliki sudut pandang yang bagus. Bahkan dengan tingkat kecerahan diatur rendah pada layar tetap terlihat cerah, membuatnya sangat mudah digunakan bahkan di siang hari penuh di luar ruangan.

Resolusi 1440 x 720 pixel tidak cukup sejajar untuk dibandingkan di dunia smartphone quad HD, namun layarnya tajam dan detail, dan saya tidak pernah merasa kekurangan definisi atau resolusi, meski layarnya besar. Lebih baik lagi, ponsel ini memiliki aspek rasio 18:9, mempertahankan ukuran layar paling trendi di tahun 2017, dan layar ekstra mewah yang sangat bagus untuk melihat lebih banyak pada layar. Layar cenderung memiliki warna-warna yang keren dari spektrum, dan memiliki warna yang lebih kebiruan dibandingkan dengan layar yang lebih hangat seperti yang Anda temukan di panel Samsung AMOLED.

Notifikasi LED warna biru ditemukan di sudut kiri atas, yang menyala saat mengisi daya dan saat notifikasi masuk. Earpiece grill berada tepat di tengah layar, dan kamera selfie berada di sebelah kanan. Tidak ada sensor cahaya di sini sehingga Anda harus melakukan penyesuaian terhadap kecerahan layar secara manual.

Melihat di bagian belakang handset, terdapat celah kecil di pojok kiri bawah panel belakang, yang memungkinkan Anda melepaskan casing belakang seperti ponsel Nokia lawas. Setelah membukanya akan mengungkapkan alasan mengapa ponsel ini terasa berat: Anda melihat baterai besar 4,000 mAh bersarang di dalamnya. Di atasnya ada port untuk kartu SIM dan juga slot microSD, jika Anda merasa penyimpanan internal tidak mencukupi.

Terakhir, Anda dapat menemukan dual kamera utama di kiri atas, dengan dual LED flash dan sensor sidik jari yang terletak di dekat bagian atas, berada di tempat yang tepat untuk jari telunjuk Anda. Sensor sidik jari cukup cepat dan bisa diandalkan, dan begitu jari Anda didaftarkan, perangkat ini segera membuka ponsel tanpa hambatan.

Kami menerima unit warna hitam, namun Blackview S6 hadir dalam tiga warna: Magic Black, Platinum Gold dan Aurora Silver. Masing-masing didesain dengan selera tinggi dan semuanya terlihat bagus, meski saya masih menyukai perpaduan warna hitam atau emas. Versi Aurora Silver memiliki bezel hitam, yang terlepas dari keseluruhan skema warna putih sehingga hal ini perlu diingat saat memilih warna.

Spesifikasi dan Performa

Di dalam S6 terdapat prosesor MediaTek MT6737, yang merupakan prosesor yang cepat dan tajam dan setara untuk tataran segmen ini. Anda akan menemukan prosesor ini lebih dari cukup untuk menjalankan tugas-tugas smartphone biasa, dan bahkan bisa menangani beberapa game 3D ringan dengan GPU Mali-T720. Jangan berharap terlalu banyak, namun S6 berhasil meraih skor 30,775 pada benchmark AnTuTu V6, yang cukup untuk menjalankan beberapa game ringan dengan video yang bagus. Perangkat flagship memiliki nilai lebih dari 100,000, dengan seri iPhone 8 bahkan mencapai 200,000, namun untuk ponsel yang bisa Anda beli di bawah Rp1.589.505, skor ini cukup bagus.

Ponsel ini memiliki RAM sebesar 2GB serta memori internal 16GB, dan bila digabungkan dengan prosesor MT6737 quad-core 1.3GHz Anda memiliki ponsel yang berperforma dengan sangat baik. Dalam penggunaan sehari-hari, saya menyimpan sekitar lima aplikasi, termasuk Facebook, Messenger Lite, Viber, Chrome, aplikasi kamera, dan Gmail. Terkadang saya membiarkan Spotify terbuka di latar belakang, dan saya bisa membuka Instagram untuk posting berbagai momen bahagia. S6 lebih dari cukup untuk menangani beban semacam ini tanpa masalah, ponselnya cepat, responsif dan hanya mendapati beberapa hambatan kecil saat membuka beberapa situs web yang tidak dioptimalkan di Chrome, saya tidak pernah merasa ponsel lelet selama menggunakan ponsel ini.

Hal terbesar yang Anda butuhkan adalah untuk membiasakan diri dengan ponsel baru dengan layar lebar 18:9 tanpa kehadiran tombol fisik di bagian bawah. Meskipun banyak dari kita terbiasa mendapatkan operasi semacam ini pada tablet, cukup berbeda saat Anda menggunakan ponsel cerdas yang Anda pegang hanya dengan satu tangan. Anda harus terus menggeser ke atas dari bawah untuk mendapatkan tombol software yang Anda butuhkan untuk kembali ke home screen atau layar utama, atau untuk beralih dengan tombol tab. Hal ini tentu bukanlah hal besar, tapi lebih merepotkan daripada yang saya harapkan. Anda bisa menggunakannya dengan cukup cepat, tapi hal ini biasa terjadi pada kebanyakan ponsel 2018 yang terus berkembang.

Instalasi Android di S6 sangat keren, dan saya mendapatkan operasional ponsel yang tajam dengan versi Android yang bersih ini. Menggeser dari atas ke bawah layar memperlihatkan papan pemberitahuan dan panel kontrol di mana Anda dapat mengubah tingkat kecerahan, menyalakan WiFi dan Bluetooth, memeriksa baterai, dan menyalakan Location Services atau lampu senter LED, mengaktifkan fitur Do Not Disturb dan mode Airplane, beralih orientasi layar, menghadirkan hotspot WiFi, dan masuk ke menu konfigurasi telepon.

Dua hal yang tidak selalu saya lihat di perangkat lain adalah fitur LiveDisplay dan Adobe Captivate. Fitur LiveDisplay memungkinkan Anda untuk mengontrol keseimbangan RGB pada layar, dan mengatur profil mode Day dan Night untuk tampilan. Adobe Captivate memungkinkan Anda untuk menangkap apapun yang ada di layar dengan mudah.

Kualitas Kamera

Saat harus memilih smartphone, orang-orang cenderung sangat pemilih tentang seberapa bagus kameranya. Blackview S6 menawarkan kamera 5 megapiksel untuk foto selfie, dan dual kamera di bagian belakang dengan lensa utama 8 megapiksel dengan aperture f/2.0 dan lensa sekunder 0.3 megapiksel untuk dukungan wide-angle. Kamera belakang memiliki dual-LED flash, namun ponsel ini biasanya tidak begitu bagus dalam pengambilan gambar dalam kondisi minim cahaya.

Di siang hari, ponsel ini bisa mengambil beberapa gambar yang cukup mengesankan. Saat kamera ponsel tidak sesuai dengan kualitas perangkat mid-range atau flagship yang lebih mahal, Anda dapat mengambil beberapa foto yang benar-benar bagus jika Anda memiliki tangan yang mantap dan memperhatikan pencahayaan dengan detil. Bisa dikatakan, saya lebih mengandalkan kamera belakang daripada kamera depan.

Berikut adalah beberapa gambar dari kamera selfie. Kamera depan cenderung mengekspose berlebihan dan tidak berfungsi dengan baik dalam kondisi terlalu terang. Namun pada saat yang sama memiliki masalah saat harus berfokus pada kondisi cahaya rendah dan meghasilkan gambar kabur di dalam ruangan. Saya tidak yakin apakah terdapat masalah software dengan kamera depan, tapi saya biasanya tidak bisa mendapatkan hasil yang bagus apapun yang saya lakukan. Hal ini mengejutkan karena hands-on review Blackview A7 saya pada beberapa waktu lalu berhasil melakukan beberapa bidikan yang lebih baik, meski masih cukup biasa-biasa saja. Singkatnya, saya akan mengambil beberapa bidikan gambar selfies dengan S6 pada saat benar-benar diperlukan.

Kamera belakang di sisi lain jauh lebih baik. Dalam kondisi pencahayaan normal dalam ruangan, kamera ini berhasil mengambil beberapa gambar tajam. Satu hal yang perlu dicatat, kamera ponsel ini cenderung dingin, dan tidak cukup menangkap banyak kehangatan pada gambar. Jika pencahayaannya tidak terlalu bagus, Anda perlu memastikan tetap memegangnya secara mantap/tidak goyang, atau hasil gambar yang didapat tidak akan tajam.

Berikut adalah bidikan gambar yang diambil dalam kondisi minim cahaya di dalam ruangan. Anda masih bisa mendapatkan beberapa subjek fotografi yang benar-benar bagus dengan tangan yang mantap/tidak goyang. Gambar ini dibidik di dalam ruangan yang remang remang-remang dengan pencahayaan buruk.

Inilah bidikan gambar lainnya di ruangan yang remang-remang. Bahkan dalam kondisi seperti ini kamera masih bisa bertahan dan menghasilkan hasil bidikan gambar yang lumayan pada benda-benda berukuran kecil.

Inilah foto makanan yang dibidik dalam kondisi pencahayaan yang kurang ideal di kafetaria di sebuah mall.

Mengambil gambar di luar ruangan kualitasnya bisa baik atau buruk. Dalam cahaya redup seperti malam hari, hasil gambarnya tidak terlalu mengesankan.

Tapi sekitar tengah hari atau pertengahan pagi hari Anda bisa mendapatkan beberapa gambar bagus.

Mengambil gambar di malam hari adalah tidak disarankan, kecuali jika Anda memiliki sumber pencahayaan yang bagus. Inilah hasil bidikan gambar malam hari dengan pencahayaan yang layak. Bahkan dengan pencahayaan, Anda bisa melihat gambarnya cenderung berlebihan di sekitar pencahayaan terang dan mengaburkan gambarnya.

Dalam kondisi pencahayaan yang sangat buruk, yang Anda dapatkan hanyalah gambar hitam dengan detail yang buruk dan banyak artefak, jadi Anda perlu mengambil gambar malam Anda dengan memperhatikan komposisi dengan cermat.

Akhirnya, Anda bisa melakukan sejumlah produk fotografi yang sangat mengesankan jika Anda memiliki pencahayaan yang bagus. Berikut adalah gambar yang diambil dengan teliti yang diambil di dalam ruangan.

Pengaturan standar dengan dan tanpa flash
Pengaturan efek bokeh dengan dan tanpa flash
Pengaturan standar dan efek bokeh tanpa flash

Salah satu masalah kecil dengan kamera ponsel ini adalah kurangnya kontrol yang tepat. S6 tidak memiliki kontrol eksposure untuk kamera kecuali Anda masuk ke dalam pengaturan kamera, yang berarti lebih sulit untuk mendapatkan gambar yang benar karena Anda tidak dapat menyesuaikan eksposure gambar pada saat yang sama melihat penyesuaiannya. Hal ini tampaknya tidak biasa, mengingat Blackview A7 memiliki kontrol eksposure dengan menggunakan aplikasi kamera, namun bahkan tanpa mereka Anda masih dapat mengambil beberapa gambar yang benar-benar bagus seperti yang dapat Anda lihat dari galeri.

Kesimpulan

Setelah dua minggu bersama ponsel ini, saya dapat mengatakan bahwa Blackview S6 melebihi harapan saya untuk ponsel kisaran USD 100 atau Rp1,3 jutaan. Dengan menggunakan layar 18:9 yang besar, sesuatu yang harus Anda bayar di kisaran Rp5,3 jutaan atau lebih pada tahun lalu. Hari ini, produsen seperti Blackview memberi kami pengalaman ultra-widescreen atau layar super lebar dengan biaya yang sangat terjangkau. Di segmen di mana masih sangat umum untuk memiliki layar kecil berukuran kecil 4 inci beresolusi 480p, layar pada Blackview S6 adalah pemenang sejati. Anda biasanya harus membayar dua kali atau tiga kali lipat untuk sebuah tampilan seperti ini dengan pesaing seperti OPPO A83 atau Vivo V7.

Daya tahan baterai benar-benar bagus, dan ponsel terus bertenaga seperti juara selama dua hari sebelum saya harus mengisi daya. Saya bahkan menggunakan ponsel sebagai unit referensi yang menjalankan beberapa aplikasi untuk permainan game RPG dan menggunakannya sepanjang hari tanpa istirahat untuk mengisi daya, dengan penggunaan berat melalui informasi. Ini adalah ponsel yang cocok untuk siapa pun dengan anggaran terbatas, dan pasti akan membuat semua anak senang, selama mereka tidak berkiblat di perangkat Apple.

Jika Anda adalah tipe yang menyimpan dua ponsel, perangkat ini bisa membantu mendukung ponsel lain yang Anda gunakan di jaringan telepon lain yang signifikan sedangkan Anda menyimpan sendiri lini pasca-bayar original Anda. Dengan dual kamera utama yang sangat mumpuni, layar yang jernih dan kinerja yang tajam, Blackview S6 adalah pilihan tepat bagi siapa saja yang mencari perangkat yang bernilai, apakah Anda menggunakannya sebagai ponsel utama, ponsel cadangan atau ponsel sekunder Anda atau ponsel untuk anak-anak.

Anda dapat membeli Blackview S6 dari AliExpress.com, dan Anda juga dapat menyimak lebih banyak daftar ponsel yang tersedia secara lokal dari Priceprice.com.

Produk Terkait

Blackview S6

Harga termurah di Indonesia Rp 1.339.810