04/01/2017

Haruskah Apple Dirikan Pabrik di Amerika?

Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump pernah meminta agar Apple mendirikan pabrik di Amerika dengan tenaga kerja dari negara sendiri. Seiring pelantikan Trump, wacana tersebut kembali berhembus. Haruskah Apple mendirikan pabrik di Amerika ?

Apple terus berupaya untuk memastikan semua jaringan pemasoknya mampu mengerjakan tugasnya dengan lancar. Itu mengapa, CEO Apple Tim Cook bekerja sama dengan Foxconn, perusahaan mitra Apple dari Taiwan. Perusahaan tersebut menjadi pemanufaktur produk Apple dari pabriknya di China dan berhasil mengantarkan Apple sebagai perusahaan dengan penjualan produk yang cukup sukses di dunia.

Sementara itu, Donald Trump yang saat ini menjadi Presiden AS terpilih pernah meminta Apple agar membuat produknya dengan tenaga kerja dari Amerika, demi menghadapi derasnya persaingan dengan smartphone China. Forbes, salah satu media terkemuka di Amerika Serikat kembali mempertanyakan permintaan dari Donald Trump tersebut. Haruskah Apple mempertimbangkan untuk mendirikan pabrik di negaranya sendiri, Amerika?

Forbes menilai pendirian pabrik Apple di Amerika masih harus dipertimbangkan secara matang. Pasalnya, pendirian pabrik di AS akan berbiaya lebih mahal dan berimbas pada turunnya pendapatan yang dihasilkan Apple.

Dengan bekerja sama dengan Foxconn, Apple mampu memproduksi iPhone 7 32GB dengan biaya $400 atau Rp 5,2 juta, sedangkan jika dijual di Amerika bisa dipasarkan dengan harga $649 atau Rp 8,5 juta, dengan gross margin 38,4%. Meski angka tersebut terbilang tinggi, namun Apple pernah mendapatkan gross margins 68% di 2010. Selain itu, bisnis smartphone Apple juga makin berkembang dari tahun 2007-2016.

Sebelum memproduksi perangkat Apple di Amerika, terdapat hal yang cukup panjang untuk memproduksi iPhone dan mengirimkannya langsung ke tangan pelanggan. Hal tersebut dimulai memesan dan menerima komponen iPhone. Mitra Apple, Foxconn memproduksi iPhone dari pabriknya di Zhengzhou. Dan Apple harus memesan komponen dari 200 supplier global dan mengirimkannya ke Zhengzhou, China. Selain itu, proses pembuatan iPhone juga masih panjang dengan melewati berbagai hal, mulai perakitan, melewati bea-cukai setempat, mengirimkan iPhone ke pusat distribusi di AS, hingga mengirimnya ke ritel.

Analis dari Syracuse University, Jason Dedrick juga memperkirakan biaya produksi iPhone di AS akan meningkat $30-$40 per unit lebih mahal. Selain itu, upah pekerja di AS juga lebih mahal. Perkiraan itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan artikel di New York Times yang menyebut biaya produksi iPhone di AS lebih mahal $100.

Nah, dengan mahalnya biaya produksi iPhone di AS tersebut sepertinya Apple mempertimbangkan lebih banyak hal. Selain itu, Donald Trump yang akan menjadi Presiden AS yang baru memiliki pertimbangan lain?