06/07/2018

Inilah Berbagai Alasan Dibalik Pemblokiran Aplikasi Tik Tok Oleh Kominfo

Aplikasi layanan video singkat Tik Tok secara resmi sudah diblokir oleh Kominfo sejak tanggal 3 Juli 2018. Berbagai pro dan kontra pun menyertai kebijakan ini, namun tahukah Anda alasan dibalik pemblokiran aplikasi tersebut?

Kementerian Komunikasi dan Informatika akhirnya secara secara resmi mengumumkan telah memblokir aplikasi Tik Tok pada tanggal 3 Juli lalu, kebijakan ini harus ditempuh oleh pemerintah Indonesia karena aplikasi yang menyajikan layanan video singkat berbasis User Generated Content tersebut dianggap banyak menampilkan konten yang melanggar undang-undang.

Berdasarkan penjelasan dari Samuel Abrijani selaku Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Tik Tok di Indonesia sudah disalahgunakan untuk memuat berbagai konten negatif, misalnya seperti pelecehan agama, pornografi serta berbagai konten yang tidak pantas lainnya. Hal ini lantas memicu perhatian Kominfo untuk turun tangan guna mencegah penyebaran konten yang lebih luas.

Di sisi lain, desakan untuk memblokir akses aplikasi Tik Tok di Tanah Air pun sebelumnya juga ramai disampaikan oleh warganet melalui sosial media. Sebagai salah satu bentuk keseriusan dari tuntutan itu, bahkan sampai ada yang membuat petisi online yang ditujukan kepada Pemerintah Indonesia khususnya Kominfo, dengan alasan aplikasi ini dianggap lebih banyak membawa pengaruh negatif daripada manfaat positifnya. Petisi yang ditandatangani oleh ribuan orang ini pun sempat viral dan menjadi salah satu pemicu diblokirnya platform tersebut.

Sebelum memutuskan benar-benar menutup akses Tik Tok, Menkominfo Rudiantara sendiri diketahui sudah berkoordinasi dengan Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA). Untuk menyelesaikan permasalahan ini Kominfo beberapa hari lalu juga sudah melakukan pertemuan tertutup dengan perwakilan Bytedance Inc, selaku perusahaan yang menaungi aplikasi Tik Tok.

Perusahaan internet asal Tiongkok yang juga mengelola aplikasi Musical.ly tersebut berjanji akan segera memperbaiki sistem penyaringan konten menjadi lebih edukatif dan bermanfaat. Dalam pertemuan tersebut Menkominfo juga menyampaikan jika Pemerintah bersedia untuk mencabut pemblokiran Tik Tok asalkan mereka bisa membersihkan konten negatif yang ada di layanan mereka. Tak hanya itu, jika ingin tetap beroperasi di Indonesia kedepannya Tik Tok juga harus tetap intensif melakukan penyaringan konten serta membuka kantor operasional di Indonesia, agar jika kejadian serupa terjadi kembali Pemerintah lebih mudah dalam berkoordinasi.

Terlepas dari kabar tersebut, upaya pemblokiran aplikasi Tik Tok pun mendapatkan respon yang cukup beragam di kalangan masyarakat. Bahkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun ikut mengomentari masalah ini, Ia menyampaikan dukungan pemblokiran itu karena menganggap aplikasi Tik Tok kurang berfaedah.

Tik Tok yang di negara asalnya memiliki nama asli Douyin ini diketahui resmi diperkenalkan kepada para pengguna di Indonesia pada bulan September 2017 lalu. Sejak saat itu aplikasi tersebut dengan cepat menarik banyak pengguna setia, salah satunya adalah Prabowo Mondardo alias Bowo. Berkat video-videonya di Tik Tok, siswa asal Tangerang Selatan yang masih duduk di bangku SMP tersebut menjadi idola baru, sampai para penggemarnya rela mengeluarkan uang sebesar Rp80 ribu untuk sekedar hadir dan berfoto dalam acara Meet and Greet.