02/07/2019

Brand Pakaian Dalam Kim Kardashian Memancing Kontroversi, Wali Kota Kyoto Kirim Surat Terbuka

Berhati-hatilah dalam mematenkan sebuah brand yang bersinggungan dengan suatu budaya kalau tidak mau berakhir seperti merek underwear milik Kim Kardashian West, 'Kimono Intimates'.

Baru-baru ini Wali Kota Kyoto, Daisaku Kadokawa, melayangkan surat terbuka kepada Kim Kardashian West terkait penggunaan nama brand untuk lini pakaian dalamnya, 'Kimono Intimates'. Ia memintanya untuk mempertimbangkan kembali pemakaian kata 'Kimono' yang tidak menghormati dan menghargai sejarah dan nilai-nilai tradisi dalam kebudayaan Jepang.

Melalui surat yang diterbitkan di website resmi Kyoto, Kadokawa menyatakan bahwa Kimono melambangkan keindahan, semangat, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jepang. Lebih jauh lagi, ia menuliskan bahwa Kimono merupakan baju etnik tradisional yang tak hanya disukai dan dikenakan oleh orang lokal, tapi juga turis dari berbagai negara. Oleh karena itu, tidak sepantasnya Kimono dimonopolisasi. Bahkan Wali Kota Kyoto ini tak segan-segan mengundang Kim Kardashian untuk mengunjungi Jepang dan mempelajari Budaya Kimono.

Berikut terjemahannya:

"Ms. Kim Kardashian West
Kimono Intimates, Inc."

"Melalui surat ini, saya ingin menegaskan arti dan pemahaman tentang Kimono dan meminta Anda untuk mempertimbangkan kembali penggunaan nama Kimono pada brand Anda."

"Kimono merupakan baju etnik tradisional yang dibuat dengan ketelatenan dan ketelitian oleh nenek moyang kami, dan menjadi budaya yang kami cintai dan telah diwariskan secara turun-menurun. Bahkan Kimono adalah simbol dari keindahan, semangat, dan nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang."

"Kami lihat bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini, selain masyarakat Jepang, turis mancanegara juga menyukai Kimono dan bahkan memakainya ketika berjalan-jalan di Kyoto dan kota-kota lainnya di Jepang. Hal ini menjadi bukti bahwa Kimono tak hanya menjadi kebudayaan yang dibanggakan oleh masyarakat Jepang, tetap juga dicintai oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia."

"Saat ini kami sedang berusaha untuk mendaftarkan 'Budaya Kimono', simbol dari kebudayaan dan semangat kami, sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Menurut kami, nama 'Kimono' adalah aset yang telah dikenal oleh siapa pun yang mencintai Kimono dan budayanya. Oleh karena itu, sangat tidak pantas jika Kimono dimonopolisasi."

"Saya harap Anda bisa berkunjung ke Kyoto, tempat berbagai budaya Jepang termasuk Kimono yang telah diwariskan dan dicintai turun-temurun, untuk mempelajari inti Budaya Kimono dan memahami nilai kehidupan kami."

"Terima Kasih,
Daisaku Kadokawa,
Wali Kota Kyoto"

Sebelum Wali Kota Kadokawa mengeluarkan surat resminya, pemakaian kata Kimono memang sudah menjadi kontroversi tepat di saat peluncurannya di hari Selasa, 25 Juni 2019. Dalam suatu wawancara yang dilakukan oleh surat kabar internasional, wanita keturunan Armenia tersebut menyatakan sama sekali belum punya niat untuk mengubah nama brand pakaian dalamnya. Di samping itu, ia menyiratkan bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud untuk melecehkan kebudayaan tertentu.

Hanya saja, sebuah unggahan di akun resmi Instagram-nya (@kimkardashian) menyatakan bahwa ia membatalkan penggunaan nama brand Kimono Intimates. Unggahan yang dipublikasikan pada tanggal 01 Juni 2019 ini menuai beragam komentar dari para netizen.

"Menjadi seorang entrepreneur dan bos bagi diri sendiri adalah salah satu tantangan terbesar tapi juga terbaik dalam kehidupan saya. Salah satu alasan yang membuat bisnis saya berhasil hingga di titik ini adalah komunikasi secara langsung yang dibangun antara saya dengan para penggemar dan masyarakat umum. Saya selalu dan akan terus mendengarkan, belajar, dan mengembangkan diri – bahkan saya juga menghormati kritik dan saran serta pendapat yang disampaikan oleh orang-orang. Ketika meluncurkan lini pakaian dalam, saya tidak punya niat buruk apa pun. Saya merangkul semua perbedaan yang ada pada saat membuat brand dan meluncurkan produk. Setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang, saya memutuskan untuk mengganti brand Solution wear dengan nama yang baru. Saya akan memberi tahu kalian jika ada informasi terbaru. Terima kasih atas pengertian dan dukungan kalian semua."

Kontroversial terkait kebudayaan ini rupanya tidak hanya terjadi baru-baru ini saja. Pada bulan april lalu, tepatnya ketika acara Coachella berlangsung, wanita kelahiran 1980 ini datang dan menonton pertunjukkan Sunday Service Kanye West dengan mengenakan Maang Tikka, hiasan kepala tradisional India. Bagi banyak orang, perbuatannya ini menyinggung kebudayaan India.