03/09/2019

Menyusul Payless, Forever 21 Juga Ajukan Status Bangkrut

Tingginya perkembangan fashion high-street serta banyaknya retailer dan toko online membuat Forever 21 terguncang dan dikabarkan akan mengajukan status bangkrut.

Di era yang serba digital ini, setiap perusahaan mau tidak mau harus punya berbagai strategi untuk bertahan. Terlebih lagi perilaku konsumen saat ini cenderung memilih untuk berbelanja online, yang notabene dapat dilakukan dari mana saja dan kapan saja. Di tengah-tengah perkembangan zaman yang seperti ini, rupanya membuat Forever 21 perlahan-lahan tumbang. Baru-baru ini terdengar kabar bahwa salah satu retailer terbesar asal Amerika Serikat tersebut mengajukan permohonan status bangkrut.

Selama sepuluh tahun terakhir, retailer yang fokus utamanya terletak di fashion remaja putri ini melakukan ekspansi secara besar-besaran. Bahkan Forever 21 juga tak tanggung-tanggung dalam memperluas lokasi usahanya. Sayangnya, tindakan yang diambilnya ini tidak sejalan dengan keuntungan yang diperoleh. Secara diam-diam, Forever 21 telah menutup toko-tokonya yang terletak di beberapa daerah di Amerika Serikat dan juga di pasar internasional.

Dalam perkembangannya hingga saat ini, perusahaan pribadi ini sama sekali tidak merilis laporan keuangan mereka ke publik. Namun, menurut informasi yang didapat dari Forbes, Forever 21 mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan di tahun kemarin, yakni sejumlah 20 sampai 25 persen. Pada bulan Agustus tahun ini, Forever 21 sempat meminta bantuan sejumlah penasihat untuk membangun kembali dan mengevaluasi ulang 815 tokonya yang tersebar di beberapa negara, termasuk Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Eropa, Korea, dan Filipina.

Perusahaan yang dibangun oleh pasangan suami istri asal Korea, Jin Sook dan Do Won Chang, ini telah melalui berbagai negosiasi di awal bulan ini. Namun, tindakan ini disinyalir kurang begitu berhasil dan tambahan dana yang diminta dari para investor masih macet dan terhenti. Dengan mengajukan status bangkrut, Forever 21 akan menilai dan menganalisa gerai mana saja yang tidak mendatangkan keuntungan serta merekapitulasi bisnis.

Sebelum Forever 21, sudah banyak retailer Amerika yang melayangkan status bangkrut. Pada tahun 2019 saja, sudah ada sekitar 8.000 toko yang ditutup. Keadaan ini kemudian disebut sebagai 'retail apocalypse' atau 'kiamat bagi retailer'. Pada bulan Februari, Payless yang dikenal sebagai retailer sepatu dengan harga terjangkau itu mengumumkan rencananya untuk menutup 2.500 tokonya.