11/01/2019

Rencana Ekspansi GO-JEK Indonesia ke Asia Tenggara Terhambat Ketika Filipina Menolak Kehadirannya

GO-JEK Indonesia mengalami hambatan terhadap rencana ekspansi mereka di Asia Tenggara, setelah regulator transportasi di Filipina menolak perusahaan ride-hailing ini untuk meluncurkan layanannya di sana. Alasan penolakan ini dikarenakan GO-JEK di negaranya dinilai tidak memenuhi persyaratan, di mana tidak memenuhi kriteria kepemilikan lokal.

Land Transportation Franchising and Regulatory Board (LTFRB) atau yang diartikan sebagai Badan Waralaba Transportasi dan Regulasi Transportasi, merupakan badan di bawah Kementerian Perhubungan Filipina yang bertugas mengatur regulasi transportasi umum. Dikabarkan LTFRB telah menolak proposal masuknya GO-JEK ke Filipina yang tertuang dalam Keputusan No.096 pada 20 Desember 2018. Penolakan invasi GO-JEK ke Filipina tersebut merupakan sebuah pukulan besar terhadap rencana GO-JEK Indonesia untuk menghadapi saingan regionalnya yakni Grab di pasar Asia Tenggara yang tengah berkembang pesat.

Martin Delgra selaku ketua LTFRB mengatakan bahwa GO-JEK tidak memenuhi persyaratan kewarganegaraan dan aplikasinya tidak diverifikasi sesuai dengan aturan di negaranya. Karenanya badan regulasi transportasi Filipina tersebut menolak izin GO-JEK karena dinilai tidak bisa memenuhi aturan yang diterapkan oleh pemerintah Filipina.

Aturan yang dimaksud oleh Martin Delgra tersebut adalah aturan kepemilikan saham asing, di mana pada beberapa bisnis tertentu yang salah satunya adalah transportasi, kepemilikan saham asingnya maksimal 40% saja jika ingin beroperasi di Filipina. GO-JEK mengajukan izin untuk beroperasi di Manila pada Agustus 2018 melalui anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Velox Technology Philippines Inc. Kemudian pada bulan yang sama, GO-JEK ditambahkan ke daftar industri di mana kepemilikan asing dibatasi hingga 40%. Sedangkan Velox sendiri dinilai tidak memenuhi persyaratan kewarganegaraan dan aplikasi itu tidak diverifikasi sesuai dengan aturan di Filipina.

Sedangkan seorang juru bicara GO-JEK mengatakan bahwa pihaknya terus terlibat secara positif dengan LTFRB dan lembaga pemerintah lainnya sebagai upaya untuk memberikan solusi transportasi yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat Filipina. Kini di Filipina sendiri telah ada sekitar 37.000 kendaraan yang terdaftar di 8 perusahaan yang terakreditasi, sedangkan Departemen Perhubungan telah membatasi menjadi total 65.000.

GO-JEK yang didirikan pada tahun 2011, kini telah berevolusi dari layanan ride-hailing menjadi penyedia aplikasi satu atap di mana pengguna dapat memesan makanan dan layanan lainnya seperti pembersihan rumah bahkan layanan pijat, serta melakukan pembayaran online. GO-JEK juga telah memenangkan dukungan keuangan dari para investor termasuk Google, dan pada Mei 2018 GO-JEK mengatakan akan melakukan ekspansi ke Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina. Sedangkan Grab yang berbasis di Singapura tetap menjadi perusahaan ride-hailing terbesar di Filipina dengan menguasai 90% pasar. Mampukah GO-JEK melanjtkan langkahnya untuk mengembangkan ekspansinya di luar Indonesia terutama untuk menghadapi kekuatan Grab di Asia Tenggara.